Tentara Suriah Kuasai Tabqa dan Bandara Militer, Eskalasi Konflik Meluas ke Raqqa

by christine natalia
Tentara Suriah Kuasai Tabqa dan Bandara Militer, Eskalasi Konflik Meluas ke Raqqa

Salingsambung.com – Tentara Suriah mengumumkan keberhasilan mengambil alih kendali penuh atas kota strategis Tabqa beserta bandara militernya yang berada di sepanjang Sungai Eufrat. Operasi tersebut menjadi bagian dari serangan cepat pemerintah di provinsi Raqqa yang dalam beberapa pekan terakhir kembali memanas. Langkah ini menandai perluasan signifikan pengaruh Damaskus di wilayah utara Suriah setelah bertahun-tahun berada di bawah kontrol kelompok bersenjata lain.

Menteri Informasi Suriah Hamza al-Mustafa menyampaikan pada Minggu pagi bahwa pasukan pemerintah telah mengamankan seluruh area Tabqa, termasuk Bendungan Eufrat yang merupakan bendungan terbesar di negara itu. Menurutnya, keberhasilan tersebut tercapai setelah pasukan mengusir kelompok pejuang yang memiliki keterkaitan dengan Partai Pekerja Kurdistan atau PKK. Pemerintah menilai penguasaan bendungan memiliki arti penting, baik dari sisi strategis maupun ekonomi, karena menjadi sumber utama energi dan pengairan di kawasan tersebut.

Selain Tabqa, perkembangan signifikan juga terjadi di jantung kota Raqqa. Sumber dari pasukan suku yang bersekutu dengan pemerintah menyatakan bahwa mereka telah memasuki beberapa titik vital di kota itu. Gedung keamanan militer dilaporkan sudah berada di bawah kendali pasukan pro-pemerintah. Wilayah Mashlab dan kawasan Shuaib pun disebut telah berhasil direbut tanpa perlawanan berarti. Situasi ini menunjukkan perubahan peta kekuatan di Raqqa yang sebelumnya lama dikuasai oleh Pasukan Demokratik Suriah atau SDF.

Pergerakan serupa berlangsung di wilayah timur laut Suriah. Sumber dari Pasukan Suku Suriah menjelaskan bahwa daerah di selatan Hasakah, mulai dari Sur hingga al-Shaddadi, kini tidak lagi memiliki kehadiran SDF. Beberapa distrik di al-Shaddadi disebut telah dibersihkan setelah unit-unit SDF memilih mundur secara bertahap. Penarikan tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya tekanan militer dari pasukan pemerintah dan kelompok suku lokal.

Fenomena pembelotan juga mewarnai dinamika di lapangan. Sejumlah anggota suku Arab yang sebelumnya tergabung dalam SDF dilaporkan beralih mendukung pemerintah. Perubahan sikap itu mempercepat runtuhnya jaringan pertahanan SDF di beberapa desa sekitar al-Shaddadi. Pos-pos pemeriksaan yang sebelumnya dijaga ketat kini ditinggalkan, bahkan hingga ke wilayah al-Hadadiyah di sepanjang jalur menuju Hasakah.

Sementara itu, sumber keamanan Suriah mengungkapkan perkembangan penting di sektor energi. Para pejuang SDF yang bertahan di ladang minyak al-Omar dan al-Tanak di pedesaan timur Deir Az Zor dilaporkan telah mundur. Tentara Suriah kemudian bergerak cepat mengamankan al-Omar yang dikenal sebagai ladang minyak terbesar di Suriah. Penguasaan fasilitas tersebut diperkirakan akan memberi keuntungan ekonomi besar bagi pemerintah yang tengah berupaya memulihkan kondisi pascaperang.

Pengamat regional menilai keberhasilan militer ini dapat mengubah keseimbangan kekuatan di Suriah bagian utara dan timur. Selama beberapa tahun terakhir, wilayah tersebut menjadi arena persaingan antara pemerintah, SDF, serta berbagai kelompok suku lokal. Rebutan sumber daya, terutama ladang minyak dan jalur perdagangan di sepanjang Eufrat, kerap memicu bentrokan bersenjata yang berulang.

Meski pemerintah mengklaim situasi mulai terkendali, ketegangan di lapangan belum sepenuhnya mereda. Sebagian warga Raqqa dilaporkan masih memilih mengungsi karena khawatir terjadi pertempuran susulan. Organisasi kemanusiaan juga memperingatkan potensi krisis baru apabila akses bantuan terhambat oleh operasi militer yang terus bergerak.

Di sisi lain, pemerintah Suriah menegaskan bahwa operasi yang dilakukan bertujuan memulihkan kedaulatan negara dan melindungi infrastruktur vital dari kerusakan lebih lanjut. Damaskus berjanji akan membuka kembali layanan publik di Tabqa dan Raqqa, termasuk pasokan listrik dari Bendungan Eufrat yang selama ini menjadi tulang punggung kebutuhan energi setempat.

Perkembangan terkini memperlihatkan bahwa konflik Suriah memasuki babak baru dengan fokus perebutan wilayah kaya sumber daya. Keberhasilan tentara merebut Tabqa, Raqqa, hingga ladang minyak di Deir Az Zor menunjukkan strategi pemerintah untuk mengonsolidasikan kendali ekonomi sekaligus militer. Namun masa depan stabilitas kawasan masih bergantung pada proses rekonsiliasi politik dan sikap berbagai aktor yang terlibat.

Masyarakat internasional terus memantau dinamika tersebut, mengingat perubahan situasi di Suriah kerap berdampak pada keamanan regional yang lebih luas. Apabila tidak disertai dialog inklusif, kekhawatiran akan munculnya gelombang konflik baru tetap terbuka. Untuk saat ini, kota Tabqa dan Raqqa menjadi simbol babak terbaru perebutan pengaruh di sepanjang Sungai Eufrat.

Related Posts

Leave a Comment