Salingsambung.com – Fenomena warna pink dan hijau mendominasi media sosial sejak pekan lalu. Ribuan pengguna mengganti foto profil dengan kombinasi dua warna yang diberi label “Brave Pink” dan “Hero Green”. Simbol visual ini bukan sekadar tren, melainkan representasi perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan melalui gerakan “17+8 Tuntutan Rakyat”.
Pembuat generator foto profil Brave Pink dan Hero Green, Anang (28), menyebut visual memiliki peran besar dalam menggerakkan solidaritas publik. Ia menilai, kekuatan simbol dapat menyatukan orang yang sebelumnya tidak terlibat dalam isu tertentu. Warna pink terinspirasi dari sosok ibu berhijab pink yang berdiri tegak membawa bendera Merah Putih di tengah barisan aparat saat aksi unjuk rasa pada 28 Agustus 2025. Momen tersebut viral dan dianggap sebagai gambaran keberanian rakyat.
Sementara itu, hijau dimaknai sebagai penghormatan terhadap Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang meninggal akibat benturan dengan aparat dalam aksi yang sama. Hijau juga identik dengan identitas para pengemudi ojek online yang sehari-hari menggunakan atribut berwarna tersebut.
Meski namanya dikaitkan dengan tren ini, Anang menegaskan ia bukan penggagas utama. Ia hanya mempermudah masyarakat untuk menggunakan simbol dengan menyediakan generator daring. Menurutnya, penggunaan visual ini baru populer dalam satu hingga dua hari terakhir, seiring meningkatnya gaung gerakan.
Fenomena ini mengingatkan pada gerakan Reformasi Dikorupsi dan kampanye Indonesia Gelap yang sebelumnya memanfaatkan kekuatan visual di dunia maya untuk memperkuat pesan politik. Namun, di balik simbol warna tersebut, terdapat substansi besar yang tengah diperjuangkan rakyat melalui 17 tuntutan mendesak dan 8 agenda reformasi sistemik.
Tuntutan rakyat terbagi berdasarkan lembaga negara. Untuk Presiden, masyarakat meminta dibentuk tim investigasi independen terkait kasus Affan Kurniawan, Umar Amarudin, dan korban lain dalam aksi 28–30 Agustus. Selain itu, rakyat mendesak penghentian keterlibatan TNI dalam pengamanan sipil agar kembali ke barak.
Kepada DPR, rakyat menuntut pembebasan seluruh demonstran tanpa kriminalisasi. DPR juga didesak menangkap dan mengadili aparat yang melakukan kekerasan secara transparan, serta menghentikan praktik represif yang melanggar standar operasional pengendalian massa.
Bagi pimpinan partai politik, publik meminta pembekuan kenaikan gaji dan fasilitas DPR. Transparansi anggaran harus dibuka, sementara harta anggota yang bermasalah perlu diselidiki oleh KPK. Partai juga diingatkan untuk memberi sanksi pada kader yang melecehkan aspirasi rakyat.
Untuk Polri, rakyat menekankan penghentian kekerasan dalam penanganan massa dan komitmen terhadap prinsip profesionalitas. Sedangkan kepada TNI, publik mendesak disiplin internal agar institusi tersebut tidak mengambil alih fungsi kepolisian.
Dalam aspek ekonomi, pemerintah diminta menjamin upah layak bagi guru, tenaga kesehatan, buruh, hingga mitra ojek online. Selain itu, langkah darurat untuk mencegah pemutusan hubungan kerja massal harus segera diambil. Dialog bersama serikat buruh mengenai upah minimum juga dianggap krusial.
Selain tuntutan jangka pendek, delapan agenda reformasi sistemik mencakup reformasi besar di DPR, perbaikan sistem partai politik, pembaruan sistem perpajakan, pengesahan UU perampasan aset koruptor, penguatan independensi KPK, reformasi kepolisian, pengembalian TNI sepenuhnya ke barak, serta peninjauan kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan.
Gerakan Brave Pink dan Hero Green diharapkan tidak berhenti pada ranah simbol semata. Masyarakat menaruh harapan bahwa tren ini menjadi pintu masuk bagi publik untuk memahami isu-isu mendasar yang sedang diperjuangkan. Simbol warna dianggap bukan hanya elemen estetika, melainkan pemicu kesadaran politik yang lebih luas.
